• Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur`an dan mengajarkannya. HR. al-Bukhari dan al-Tirmizi.
  • Seseorang yang tidak ada sedikit pun Al-Quran di dalam hatinya adalah seperti rumah yang rubuh.(HR.Tirmidzi).
  • Para ahli Al-Qur`an akan bersama para malaikat–malikat  yang mulia, sedangkan orang yang terbata-bata dalam membaca Al Qur`an tetapi ia tetap bersusah payah mempelajarinya akan mendapat pahala dua kali lipat. (HR Imam Bukhari).

0 Sebelum Meninggal Dia Mengatakan, "Aku Mencium Bau Surga!"

Minggu, 01 Januari 2012 Label:
 Dalam sebuah hadits yang terdapat dalam ash-Shahihain dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, "Ada tujuh golongan orang yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari tiada naungan selain dari naunganNya di antaranya, seorang pemuda yang tumbuh dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah."

Dalam sebuah hadits shahih dari Anas bin an-Nadhir ra, ketika perang Uhud ia berkata, "Wah... angin Surga, sungguh aku mencium bau Surga yang berasal dari balik gunung Uhud."

Seorang Dokter bercerita kepadaku, Pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaan kritis sedang dirawat. Ketika aku sampai, ternyata seorang pemuda yang sudah meninggal -semoga Allah merahmatinya. Lantas bagaimana detail kisah wafatnya. Setiap hari puluhan bahkan ribuan orang meninggal. Namun bagaimana keadaan mereka ketika wafat? Dan bagaimana pula dengan akhir hidupnya?

Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya -semoga Allah membalas kebaikan mereka- melarikannya ke rumah sakit militer di Riyadh. Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi apa yang ia katakan? Apakah ia menjerit atau mengerang sakit? Atau menyuruh agar segera sampai ke rumah sakit? Ataukah marah dan jengkel? Atau apa?

Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka. "Jangan khawatir! Saya akan meninggal... tenanglah... sesungguhnya aku mencium bau Surga!" Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat trsebut di hadapan para dokter yang sedang merawatnya, ia berkata kepada mereka, "Wahai saudara-saudara, aku akan mati, janganlah kalian menyusahkan diri sendiri... karena sekarang aku mencium bau Surga."

Kemudian ia meminta kedua orang tuanya agar mendekat lalu mencium keduanya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, "Asyhadu alla ilaha illAllah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah". Ruhnya melyang kepada Sang Pencipta.

Allohu Akbar... Apa yang harus kukatakan dan apa yang harus aku komentari... semua kalimat tidak mampu terucap... dan pena telah kering di tangan... aku tidak kuasa apa-apa kecuali hanya mengulang-ulang firman Allah.

"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat." (QS. Ibrahim [14] : 27)

Tidak ada yang perlu dikomentari lagi. Ia melanjutkan kisahnya. Mereka membawanya untuk dimandikan. Maka ia dimandikan oleh saudaranya Dhiya' di tempat memandikan mayat yang ada di rumah sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan yang terkahir. Sebagaimana yang telah ia ceritakan sesuah shalat Magrib pada hari yang sama.

1. Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat." Ini merupakan tanda-tanda khusnul khatimah.

2. Ia katakan tangan jenazahnya lunak demikian juga para persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai panas badan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas memandikan mayat. Padahal tubuh rang yang sudah meninggal itu dingin, kering dan kaku.

3. Telapak tangan kanannya seperti seorang yang membaca tasyahud yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan ketauhidan dan persaksiannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam.
Subhanalloh...sungguh indah kematian seperti ini. Kita mohon semoga Alloh menganugerahkan kita husnul khatimah.

Saudara-saudaraku tercinta... kisah belum selesai... saudara Dhiya' bertanya kepada salah seorang pamannya, apa yang biasa ia lakukan semasa hidupnya? Tahukah anda apa jawabannya?
Apakah anda kira ia menghabiskan malamnya dengan berjalan-jalan di jalan raya? Atau ia tidur pulas hingga terluput mengerjakan shalat? Atau sedang meneguk khamr, narkoba dan rokok? Menurut anda apa yang telah ia kerjakan? Mengapa ia mendapatkan husnul khatimah yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun mengidam-idamkan; meninggal dengan mencium bau Surga.

Ayahnya berkata, "Ia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam sesanggupnya. Ia juga membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapar melaksakan shalat Shubuh berjamaah. Ia gemar menghafal al-Qur'an dan termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di SMU."

Aku katakan, "Maha benar Alloh yang berfirman, 'Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Rabb kami ialah Alloh" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu sedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan kepadamu" Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." (QS. Fushshilat [41] : 30-32)

(Serial Kisah Teladan; Muhammad bin Shalih Al-Qahthani)
Read more

1 Wisuda Santri TPQ Amirul Mukminin Angkatan II

Senin, 26 Desember 2011 Label: ,
Setelah mengexplorasi, discovering, browsing, kami menemukan foto-foto terdahulu dari zaman yang telah berlalu daripada sejarah TPQ Amirul Mukminin. Setelah kami menimbang dengan penuh pertimbangan, memperhatikan dengan penuh perhatian, maka kami memutuskan dengan keputusan yang pasti untuk meng-upload foto-foto dokumentasi tersebut.

Kali ini yang kami upload adalah adalah foto dokumentasi dari wisuda santri TPQ Amirul Mukminin Angkatan II. Foto-fotonya mungkin agak buram, karena wajarlah seperti itu. Monggo...


Para wisudawan dan wisudawati sedang menunggu dengan antusiasme yang tinggi

Jangan ketawa! Mereka lagi serius

Para santri yang belum diwisuda turut memberikan andil

Ustadz Madinah sebagai master of ceremonial

Dia lagi mengaji
Mereka lagi duduk

Ustadz Harun sedang memberikan kata sambutan

Kapan ya kita diwisuda juga seperti mereka?

Pembina TPQ sedang membawakan sambutannya

Ustadz Askariyaman yang membawakan taushiyah pada acara tersebut

Ustadz Indra Jaya sedang membawakan sambutan
Para wisudawan sedang foto bersama-sama

Antusiasme yang tinggi

Salah seorang wisudawan sedang membawakan ceramah kepada jama'ah

Wakutnya pemberian ijazah
Ya, waktunya pemberian ijazah

Menunggu...

Grup nasyid lokal bahkan memberikan penampilan terbaiknya

Wisudawan I, II, dan III
Read more

1 Logo Baru TPQ Amirul Mukminin

Kamis, 01 September 2011 Label:
Pertengahan tahun 2011 yang lalu, TPQ Amirul Mukminin melakukan perubahan pada lambang TPQ. Yang dulu seperti ini:
Logo lama TPQ Amirul Mukminin
Diubah menjadi seperti ini:
Logo Baru TPQ Amirul Mukminin
Arti dari lambang tersebut adalah:
  • Menara masjid : menandakan ketinggian ilmu.
  • Kubah masjid : menandakan masjid adalah tempat berlindungnya orang beriman dari tipu daya dunia.
  • Buku terbuka bertuliskan Al-Qur'an dan As-Sunnah : menandakan bahwa kitab Al-Qur'an dan Sunnah Nabi akan mengantarkan orang beriman ke surga, bagaikan burung yang terbang ke angkasa.
  • Warga hijau sebagai warna lambang : mengikuti warna diantara warna yang disukai Nabi.
  • Amirul Mukminin : dalam bahasa Indonesia berarti "Pemimpin orang-orang yang beriman". Nama ini diambil dari nama masjid yang mana TPQ bernaung di bawahnya. Dengan harapan semoga generasi dari TPQ ini bisa menjadi pemimpin orang-orang yang beriman kelak.
Semoga perubahan ini tidak hanya terbatas pada perubahan fisik belaka, tapi juga pada perubahan kualitas ke arah yang lebih baik. Allahumma Amiiin...

Read more

0 Mencegah dan mengatasi Uzlah

Jumat, 29 Juli 2011
Apabila kita telah mengetahui ragam dan faktor penyebab 'uzlah dan pengaruh yang ditimbulkannya, maka akan lebih mudah untuk mengetahui jalan menghindari dan mengatasinya. Antara lain :
Pertama, memahami secara sempurna mengenai hubungan dan ikatan syariah yang menganjurkan 'uzlah dan yang menganjurkan berbaur dengan manusia serta melazimkan Jamaah.
Dengan memiliki pemahaman yang sempurna seperti itu, maka hal itu akan sanggup mencabut akar sikap 'uzlah dari jiwa seorang muslim - jika ia mampu bersikap korektif terhadap dirinya. Ia akan memberi dorongan untuk terjun ke tengah-tengah jamaah. Sebab pada prinsipnya manusia itu adalah makluk sosial, sedangkan sikap 'uzlah yang timbul pada waktu-waktu tertentu tidak disepakati oleh agama dan kehidupan.
Kedua, memahami kondisi secara mendalam atau sebab-sebab yang mendorong sebagian ulama salaf untuk melakukan 'uzlah dan tafarrud.
Pemahaman tersebut akan menahan kita untuk tidak melakukan hal yang sama dengan mereka. Apalagi jika kita mengetahui bahwa sikap 'uzlah yang mereka jalani itu tidak memberi dampak suatu bahaya besar. Ini berdasarkan penilaian bahwa pada saat itu daulah Islamiyah tegak berdiri, panji-panjinya tengah berkibar dan ideologi yang berlaku pada waktu itu hanyalah ideologi Allah. Adapun sikap 'uzlah kita pada saat ini akan mengakibatkan bahaya yang banyak, menimbang belum tegaknya daulah Islamiya,sarana kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki musuh jauh lebih tinggi dibandingkan kaum muslimin, ditambah lagi sangat dahsyatnya topan kendala yang mereka hembuskan kepada seluruh umat manusia agar jauh dari jalan Allah. Kita mutlak memerlukan upaya dan tenaga besar, yang dapat saling kompak membantu dan menolong untuk dapat mengembalikan kekuasaan Allah.
Tiga, mendalami pengertian manhaj Islam dalam sikap interaksi antara pribadi dan jamaah.
Hal tersebut dapat memberi motivasi kepada seorang muslim untuk hidup bersama jamaah, di mana ia dapat memelihara harga diri dan pribadinya.
Keempat, mengetahui pemahaman yang shahih tentang ibadah.
Hal ini cukup untuk mengusir keinginan 'uzlah, membawa pada sikap iltizam (komitmen) pada jamaah, dan menganut pola hidup untuk berbaur dengan masyarakat, tanpa ada rasa gelisah sedikitpun bahwa hal tersebut berarti memanfaatkan waktu bukan dalam hal ketaatan dan ibadah.
Kelima, mengokohkan kendali hawa nafsu dan melakukannya dengan tegas.
Hal itu dimaksudkan agar ia tidak dapat dikuasai oleh hawa nafsu dan tidak mampu ditundukkan oleh syahwat yang mendorongnya untuk 'uzlah dan lari dari tanggung jawab berjamaah dan hidup bersama manusia.
Keenam, memahami peran yagn wajib dilakukan seorang muslim ketika keburukan menyebar dan kerusakan melanda.
Hal tersebut akan dapat mengeluarkan aktivis dari sikap 'uzlah dan mendorong dirinya untuk terjun berbaur bersama manusia serta berjuang menghadapi berbagai resiko yang ada supaya dapat mengatasi keburukan dan memerangi kerusakan itu.
Ketujuh, berlindung sepenuhnya dan memohon pertolongan kepada Allah Ta'ala.
Hal ini perlu kita lakukan, karena orang yang memohon pertolongan Allah itu berada di bawah pengawasan-NYa. (QS : al-Baqarah : 186)
Kedelapan, memutuskan tali persahabatan dengan orang-orang yang menempuh jalan 'uzlah dan tafarrud.
Sesungguhnya hal semacam itu sangat berperan dalam mengusir sikap 'uzlah yang menghinggapi kita.
Kesembilan, mendalami hakikat beragam perkumpulan atau jamaah yang menghimpun para aktivis di jalan Allah.
Cara semacam itu akan mampu menghindarkan hidup 'uzlah, dan kemudian berjalan bersama salah sebuah jamaah yang menyeluruh, serta menegakkan kebenaran secara totalitas.
Kesepuluh, melakukan hakikat manhaj yang ditempuh Rasul shallahu alaihi wassalam dalam membangun Daulah Islam pertama.
Hal ini akan menolong sikap untuk bebas dari pengaruh 'uzlah, dan kemudian mendorong untuk bergabung bersama masyarakat sebagaimana yang dicontohkan dan difigurkan oleh Rasul Shallahu alaihi wassalam. (QS : al-Ahzab : 21)
Kesebelas, mengetahui konspirasi makar antarkaum kafir dan kaum munafik.
Mereka saling bahu membahu untuk menghancurkan Islam dengan usaha kolektif (berjamaaah) dan bukan individu, baik dalam bidang militer, politik, ekonomi, persatuan republik wilayah mereka, dan lain. (QS : al-Anfaal : 73)
Keduabelas, menghayati kehidupan makhluk-makhluk di sekitar kita.
Pengahayatan tersebut akan menuntun kepada suatu kesimpulan baha mereka menjalani hidup secara bergotong royong dan bersama-sama. Masyarakat lebah misalnya, mereka bekerjasama dalam membangun, membersihkan, dan menjaga sarangnya, kemudian mereka keluar menghisap sari bunga dan mengeluarkan dalam bentuk madu murni.
Ketigabelas, memperhatikan dampak-dampak yang ditimbulkan akibat  'uzlah.
Hal itu akan menggugah manusia yang memiliki hati yang hidup, mendengar, dan menyadarinya untuk hidup antara manusia dan berbaur dengan mereka, agar terjauh dan terhindar dari dampak-dampak yang membahayakannya. Wallahu'alam.
Read more

0 Tidur Ala Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam

Minggu, 19 Juni 2011 Label:
“Seandainya manusia tidak mendapatkan nikmat tidur, boleh jadi manusia akan menjadi makhluk yang paling buruk dan menderita di dunia”, benarkah demikian?

Salah satu hak yang harus dipenuhi oleh tubuh dan mata adalah tidur. Tidur merupakan salah satu bentuk nikmat Allah swt yang tiada terkira nilainya. Adanya nikmat tidur yang dianugerahkan Allah swt telah memberikan banyak hal kepada manusia. Entah bagaimana jadinya jika Allah swt tidak menganugerahi manusia dengan nikmat tidur tersebut, boleh jadi manusia akan menjadi makhluk yang paling buruk dan menderita di dunia.

Coba saja bayangkan bagaimana jika kita tidak tidur selama sebulan saja. Otak kita terus berputar memikirkan dan terpikirkan berbagai macam permasalahan, tanpa istirahat. Hati tidak pernah berhenti merasakan panasnya kehidupan, marah, sedih, kecewa, semuanya terus menumpuk tanpa jeda. Mungkin wajah kita akan tampak pucat, kusut, mata merah dan cekung, pipi kempot, badan kurus kering, lemah dan tanpa gairah, atau bahkan jadi suka marah-marah. Dari segi jasmani maupun kejiwaan, bukankah itu termasuk gambaran manusia yang sangat buruk dan menderita?

Untuk itulah, maka tidur ini merupakan nikmat yang sudah sepatutnya senantiasa di syukuri oleh seluruh manusia di muka bumi ini. Namun yang menjadi permasalahan adalah, bagaimanakah seharusnya manusia mensyukuri nikmat tidur tersebut?

Salah satu cara untuk mensyukuri nikmat tidur yaitu dengan cara menunaikannya dengan baik dan benar. Mengerjakan segala aspek yang berkaitan dengan nikmat tidur dengan baik, mulai dari ketika hendak tidur sampai setelah bangun tidur. Dan untuk itu semua, pemimpin seluruh umat muslim di dunia, Rasulullah Muhammad saw telah memberikan banyak keterangan yang jelas mengenai bagaimanakah seharusnya umat muslim memperlakukan nikmat tidur yang telah dianugerahkan Allah swt kepadanya. Rasulullah Muhammad saw senantiasa memperlakukan tidur dengan etika yang baik. Rasulullah Muhammad saw tidak pernah tidur, keduali dengan disertai etika tidur yang baik.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab : 21)

Sebagai suri teladan yang baik, Rasulullah Muhammad saw telah banyak memberikan contoh bagaimana tata cara tidur yang baik. Berikut beberapa etika tidur yang sesuai dengan ajaran Islam sebagaimana yang terdapat di dalam hadits-hadits Rasulullah Muhammad saw:

1. Berwudhu ketika akan tidur

“Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan sholat.” (HR. Al-Bukhari No. 247 dan Muslim No. 2710)

Dari al-Barra` bin Azib, Rasulullah Muhammad saw pernah bersabda, "Apabila kamu hendak tidur,maka berwudhulah (dengan sempurna) seperti kamu berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan".

2. Membaca doa akan tidur


Rasulullah Muhammad saw jika mau tidur berdoa, "Bismika Allahumma Amut wa Ahyaa" (Dengan nama-Mu ya Allah aku mati dan hidup) Bila bangun tidur berdoa, "Alhamdulillahillaji ahyana ba’da maa ama tanaa wa ilayhinnusur." (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami mati, dan kepada-Nya kami kembali." (HR. Muslim)

Al-Bara’ bin ‘Azib ra. berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Muhammad saw bila berbaring di tempat tidurnya, beliau letakkan telapak tangannya yang kanan di bawah pipinya yang kanan, seraya berdoa: Robbi qinii ‘adzaabaka yawma tab’atsu ‘ibaadaka (Ya Robbi, peliharalah aku dari azab-Mu pada hari Kau bangkitkan seluruh hamba-Mu).” (HR. At Tarmidzi)

Hudzaifah ra. berkata: “Bila Rasulullah Muhammad saw berbaring di tempat tidurnya, maka beliau berdoa: Alloohumma bismika amuutu wa ahyaa (Ya Allah, dengan Asma-Mu aku mat dan aku hidup). Dan jika bangun dari tidurnya beliau berdoa: Alhamdu lillaahil-lladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilayhin-nusyuur (Segala puji bagi Allah, yang telah menghidupkan daku kembali setelah mematikan daku, dan kepada-Nya tempat kembali).” (HR. At Tarmidzi)

Dari Al Barra’ bin Azib ra berkata, "Apabila Rasulullah saw berada pada tempat tidurnya dan akan tidur maka beliau miring ke sebelah kanan, kemudian membaca: "Allahumma aslamtu nafsii ilaika wawajjahtu wajhi ilaika wafawwadhtu amrii ilaika wa alja’tu zhahrii ilaika raghbatan warahbatan ilaika laa malja-a walaa manja-a minka illaa ilaika. Aamantu bikitaabikalladzii anzalta wanabiyyikal ladzii arsalta (Wahai Allah, saya menyerahkan diriku kepada-Mu, menghadapkan mukaku kepada-Mu, menyerahkan semua urusanku kepada-Mu, dan menyandarkan punggungku kepada-Mu dengan penuh harapan dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari siksaan-Mu kecuali hanya kepada-Mu. Saya beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dari nabi yang Engkau utus." (HR. Bukhari)

3. Miring ke sebelah kanan

Hendaknya tidur dalam keadaan sudah berwudhu, sebagaimana hadits Rasulullah Muhammad saw yang artinya: “Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)

Dari al-Barra` bin Azib, Rasulullah Muhammad saw pernah bersabda, "Apabila kamu hendak tidur,maka berwudhulah (dengan sempurna) seperti kamu berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan".

4. Meletakkan tangan di bawah pipi sebelah kanan

“Rasulullah Muhammad saw apabila tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya.” (HR. Abu Dawud no. 5045, At Tirmidzi No. 3395, Ibnu Majah No. 3877 dan Ibnu Hibban No. 2350)

5. Membaca surat surat Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas

Aisyah ra. berkata: “Bila Rasulullah Muhammad saw berbaring di tempat tidurnya, beliau kumpulkan kedua telapak tangannya, lalu meniup keduanya dan dibaca pada keduanya surat Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas. Kemudian disapunya seluruh badan yang dapat disapunya dengan kedua tangannya. Beliau mulai dari kepalanya, mukanya dan bagian depan dari badannya. Beliau lakukan hal ini sebanyak tiga kali.” (HR. At Tarmidzi)

6. Tidurlah di awal malam

“Beliau saw tidur di awal malam dan menghidupkan akhir malam.” (Mutafaq ’Alaih)

“Bahwasanya Rasulullah Muhammad saw membenci tidur malam sebelum (sholat Isya) dan berbincang-bincang (yang tidak bermanfaat) setelahnya.” (Hadist Riwayat Al-Bukhari No. 568 dan Muslim No. 647 (235))

7. Tidak tidur dengan posisi telungkup (tengkurap)

“Sesungguhnya (posisi tidur tengkurap) itu adalah posisi tidur yang dimurkai Allah Azza Wa Jalla.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shohih)

8. Berdoa ketika bangun tidur

Rasulullah Muhammad saw jika mau tidur berdoa, "Bismika Allahumma Amut wa Ahyaa" (Dengan nama-Mu ya Allah aku mati dan hidup) Bila bangun tidur berdoa, "Alhamdulillahillaji ahyana ba’da maa ama tanaa wa ilayhinnusur." (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami mati, dan kepada-Nya kami kembali." (HR. Muslim)

9. Mengusap Bekas tidur

“Maka bangunlah Rasulullah Muhammad saw dari tidurnya kemudian duduk sambil mengusap wajah dengan tangannya.” (HR. Muslim No. 763 (182)

10. Beristinsyaq, beristintsaar dan bersiwak ketika bangun tidur

“Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka beristintsaarlah tiga kali karena sesunggguhnya syaitan bermalam di rongga hidungnya.” (HR. Bukhari No. 3295 dan Muslim No. 238)

Beristinsyaq dan beristintsaar adalah menghirup kemudian mengeluarkan atau menyemburkan kembali air dari hidung.

“Apabila Rasulullah Muhammad saw bangun malam membersihkan mulutnya dengan bersiwak.” (HR. Al Bukhari No. 245 dan Muslim No. 255)


Demikianlah Rasulullah Muhammad saw menunaikan hak-hak tidur yang telah diberikan Allah swt kepadanya. Dan sebagai umat Islam yang beriman kepada Allah swt dan Rasulullah Muhammad saw, maka sudah sepatutnya umat muslim menunaikan nikmat tidur tersebut sebagaimana yang telah dicontohkan dan diajarkan oleh Rasulullah Muhammad saw.

Wallahua’lam
Read more
 
TPQ Amirul Mukminin © 2010 | Designed by Blogger Hacks | Blogger Template by ColorizeTemplates