• Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur`an dan mengajarkannya. HR. al-Bukhari dan al-Tirmizi.
  • Seseorang yang tidak ada sedikit pun Al-Quran di dalam hatinya adalah seperti rumah yang rubuh.(HR.Tirmidzi).
  • Para ahli Al-Qur`an akan bersama para malaikat–malikat  yang mulia, sedangkan orang yang terbata-bata dalam membaca Al Qur`an tetapi ia tetap bersusah payah mempelajarinya akan mendapat pahala dua kali lipat. (HR Imam Bukhari).

1 Logo Baru TPQ Amirul Mukminin

Kamis, 01 September 2011 Label:
Pertengahan tahun 2011 yang lalu, TPQ Amirul Mukminin melakukan perubahan pada lambang TPQ. Yang dulu seperti ini:
Logo lama TPQ Amirul Mukminin
Diubah menjadi seperti ini:
Logo Baru TPQ Amirul Mukminin
Arti dari lambang tersebut adalah:
  • Menara masjid : menandakan ketinggian ilmu.
  • Kubah masjid : menandakan masjid adalah tempat berlindungnya orang beriman dari tipu daya dunia.
  • Buku terbuka bertuliskan Al-Qur'an dan As-Sunnah : menandakan bahwa kitab Al-Qur'an dan Sunnah Nabi akan mengantarkan orang beriman ke surga, bagaikan burung yang terbang ke angkasa.
  • Warga hijau sebagai warna lambang : mengikuti warna diantara warna yang disukai Nabi.
  • Amirul Mukminin : dalam bahasa Indonesia berarti "Pemimpin orang-orang yang beriman". Nama ini diambil dari nama masjid yang mana TPQ bernaung di bawahnya. Dengan harapan semoga generasi dari TPQ ini bisa menjadi pemimpin orang-orang yang beriman kelak.
Semoga perubahan ini tidak hanya terbatas pada perubahan fisik belaka, tapi juga pada perubahan kualitas ke arah yang lebih baik. Allahumma Amiiin...

Read more

0 Mencegah dan mengatasi Uzlah

Jumat, 29 Juli 2011
Apabila kita telah mengetahui ragam dan faktor penyebab 'uzlah dan pengaruh yang ditimbulkannya, maka akan lebih mudah untuk mengetahui jalan menghindari dan mengatasinya. Antara lain :
Pertama, memahami secara sempurna mengenai hubungan dan ikatan syariah yang menganjurkan 'uzlah dan yang menganjurkan berbaur dengan manusia serta melazimkan Jamaah.
Dengan memiliki pemahaman yang sempurna seperti itu, maka hal itu akan sanggup mencabut akar sikap 'uzlah dari jiwa seorang muslim - jika ia mampu bersikap korektif terhadap dirinya. Ia akan memberi dorongan untuk terjun ke tengah-tengah jamaah. Sebab pada prinsipnya manusia itu adalah makluk sosial, sedangkan sikap 'uzlah yang timbul pada waktu-waktu tertentu tidak disepakati oleh agama dan kehidupan.
Kedua, memahami kondisi secara mendalam atau sebab-sebab yang mendorong sebagian ulama salaf untuk melakukan 'uzlah dan tafarrud.
Pemahaman tersebut akan menahan kita untuk tidak melakukan hal yang sama dengan mereka. Apalagi jika kita mengetahui bahwa sikap 'uzlah yang mereka jalani itu tidak memberi dampak suatu bahaya besar. Ini berdasarkan penilaian bahwa pada saat itu daulah Islamiyah tegak berdiri, panji-panjinya tengah berkibar dan ideologi yang berlaku pada waktu itu hanyalah ideologi Allah. Adapun sikap 'uzlah kita pada saat ini akan mengakibatkan bahaya yang banyak, menimbang belum tegaknya daulah Islamiya,sarana kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki musuh jauh lebih tinggi dibandingkan kaum muslimin, ditambah lagi sangat dahsyatnya topan kendala yang mereka hembuskan kepada seluruh umat manusia agar jauh dari jalan Allah. Kita mutlak memerlukan upaya dan tenaga besar, yang dapat saling kompak membantu dan menolong untuk dapat mengembalikan kekuasaan Allah.
Tiga, mendalami pengertian manhaj Islam dalam sikap interaksi antara pribadi dan jamaah.
Hal tersebut dapat memberi motivasi kepada seorang muslim untuk hidup bersama jamaah, di mana ia dapat memelihara harga diri dan pribadinya.
Keempat, mengetahui pemahaman yang shahih tentang ibadah.
Hal ini cukup untuk mengusir keinginan 'uzlah, membawa pada sikap iltizam (komitmen) pada jamaah, dan menganut pola hidup untuk berbaur dengan masyarakat, tanpa ada rasa gelisah sedikitpun bahwa hal tersebut berarti memanfaatkan waktu bukan dalam hal ketaatan dan ibadah.
Kelima, mengokohkan kendali hawa nafsu dan melakukannya dengan tegas.
Hal itu dimaksudkan agar ia tidak dapat dikuasai oleh hawa nafsu dan tidak mampu ditundukkan oleh syahwat yang mendorongnya untuk 'uzlah dan lari dari tanggung jawab berjamaah dan hidup bersama manusia.
Keenam, memahami peran yagn wajib dilakukan seorang muslim ketika keburukan menyebar dan kerusakan melanda.
Hal tersebut akan dapat mengeluarkan aktivis dari sikap 'uzlah dan mendorong dirinya untuk terjun berbaur bersama manusia serta berjuang menghadapi berbagai resiko yang ada supaya dapat mengatasi keburukan dan memerangi kerusakan itu.
Ketujuh, berlindung sepenuhnya dan memohon pertolongan kepada Allah Ta'ala.
Hal ini perlu kita lakukan, karena orang yang memohon pertolongan Allah itu berada di bawah pengawasan-NYa. (QS : al-Baqarah : 186)
Kedelapan, memutuskan tali persahabatan dengan orang-orang yang menempuh jalan 'uzlah dan tafarrud.
Sesungguhnya hal semacam itu sangat berperan dalam mengusir sikap 'uzlah yang menghinggapi kita.
Kesembilan, mendalami hakikat beragam perkumpulan atau jamaah yang menghimpun para aktivis di jalan Allah.
Cara semacam itu akan mampu menghindarkan hidup 'uzlah, dan kemudian berjalan bersama salah sebuah jamaah yang menyeluruh, serta menegakkan kebenaran secara totalitas.
Kesepuluh, melakukan hakikat manhaj yang ditempuh Rasul shallahu alaihi wassalam dalam membangun Daulah Islam pertama.
Hal ini akan menolong sikap untuk bebas dari pengaruh 'uzlah, dan kemudian mendorong untuk bergabung bersama masyarakat sebagaimana yang dicontohkan dan difigurkan oleh Rasul Shallahu alaihi wassalam. (QS : al-Ahzab : 21)
Kesebelas, mengetahui konspirasi makar antarkaum kafir dan kaum munafik.
Mereka saling bahu membahu untuk menghancurkan Islam dengan usaha kolektif (berjamaaah) dan bukan individu, baik dalam bidang militer, politik, ekonomi, persatuan republik wilayah mereka, dan lain. (QS : al-Anfaal : 73)
Keduabelas, menghayati kehidupan makhluk-makhluk di sekitar kita.
Pengahayatan tersebut akan menuntun kepada suatu kesimpulan baha mereka menjalani hidup secara bergotong royong dan bersama-sama. Masyarakat lebah misalnya, mereka bekerjasama dalam membangun, membersihkan, dan menjaga sarangnya, kemudian mereka keluar menghisap sari bunga dan mengeluarkan dalam bentuk madu murni.
Ketigabelas, memperhatikan dampak-dampak yang ditimbulkan akibat  'uzlah.
Hal itu akan menggugah manusia yang memiliki hati yang hidup, mendengar, dan menyadarinya untuk hidup antara manusia dan berbaur dengan mereka, agar terjauh dan terhindar dari dampak-dampak yang membahayakannya. Wallahu'alam.
Read more

0 Tidur Ala Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam

Minggu, 19 Juni 2011 Label:
“Seandainya manusia tidak mendapatkan nikmat tidur, boleh jadi manusia akan menjadi makhluk yang paling buruk dan menderita di dunia”, benarkah demikian?

Salah satu hak yang harus dipenuhi oleh tubuh dan mata adalah tidur. Tidur merupakan salah satu bentuk nikmat Allah swt yang tiada terkira nilainya. Adanya nikmat tidur yang dianugerahkan Allah swt telah memberikan banyak hal kepada manusia. Entah bagaimana jadinya jika Allah swt tidak menganugerahi manusia dengan nikmat tidur tersebut, boleh jadi manusia akan menjadi makhluk yang paling buruk dan menderita di dunia.

Coba saja bayangkan bagaimana jika kita tidak tidur selama sebulan saja. Otak kita terus berputar memikirkan dan terpikirkan berbagai macam permasalahan, tanpa istirahat. Hati tidak pernah berhenti merasakan panasnya kehidupan, marah, sedih, kecewa, semuanya terus menumpuk tanpa jeda. Mungkin wajah kita akan tampak pucat, kusut, mata merah dan cekung, pipi kempot, badan kurus kering, lemah dan tanpa gairah, atau bahkan jadi suka marah-marah. Dari segi jasmani maupun kejiwaan, bukankah itu termasuk gambaran manusia yang sangat buruk dan menderita?

Untuk itulah, maka tidur ini merupakan nikmat yang sudah sepatutnya senantiasa di syukuri oleh seluruh manusia di muka bumi ini. Namun yang menjadi permasalahan adalah, bagaimanakah seharusnya manusia mensyukuri nikmat tidur tersebut?

Salah satu cara untuk mensyukuri nikmat tidur yaitu dengan cara menunaikannya dengan baik dan benar. Mengerjakan segala aspek yang berkaitan dengan nikmat tidur dengan baik, mulai dari ketika hendak tidur sampai setelah bangun tidur. Dan untuk itu semua, pemimpin seluruh umat muslim di dunia, Rasulullah Muhammad saw telah memberikan banyak keterangan yang jelas mengenai bagaimanakah seharusnya umat muslim memperlakukan nikmat tidur yang telah dianugerahkan Allah swt kepadanya. Rasulullah Muhammad saw senantiasa memperlakukan tidur dengan etika yang baik. Rasulullah Muhammad saw tidak pernah tidur, keduali dengan disertai etika tidur yang baik.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab : 21)

Sebagai suri teladan yang baik, Rasulullah Muhammad saw telah banyak memberikan contoh bagaimana tata cara tidur yang baik. Berikut beberapa etika tidur yang sesuai dengan ajaran Islam sebagaimana yang terdapat di dalam hadits-hadits Rasulullah Muhammad saw:

1. Berwudhu ketika akan tidur

“Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan sholat.” (HR. Al-Bukhari No. 247 dan Muslim No. 2710)

Dari al-Barra` bin Azib, Rasulullah Muhammad saw pernah bersabda, "Apabila kamu hendak tidur,maka berwudhulah (dengan sempurna) seperti kamu berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan".

2. Membaca doa akan tidur


Rasulullah Muhammad saw jika mau tidur berdoa, "Bismika Allahumma Amut wa Ahyaa" (Dengan nama-Mu ya Allah aku mati dan hidup) Bila bangun tidur berdoa, "Alhamdulillahillaji ahyana ba’da maa ama tanaa wa ilayhinnusur." (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami mati, dan kepada-Nya kami kembali." (HR. Muslim)

Al-Bara’ bin ‘Azib ra. berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Muhammad saw bila berbaring di tempat tidurnya, beliau letakkan telapak tangannya yang kanan di bawah pipinya yang kanan, seraya berdoa: Robbi qinii ‘adzaabaka yawma tab’atsu ‘ibaadaka (Ya Robbi, peliharalah aku dari azab-Mu pada hari Kau bangkitkan seluruh hamba-Mu).” (HR. At Tarmidzi)

Hudzaifah ra. berkata: “Bila Rasulullah Muhammad saw berbaring di tempat tidurnya, maka beliau berdoa: Alloohumma bismika amuutu wa ahyaa (Ya Allah, dengan Asma-Mu aku mat dan aku hidup). Dan jika bangun dari tidurnya beliau berdoa: Alhamdu lillaahil-lladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilayhin-nusyuur (Segala puji bagi Allah, yang telah menghidupkan daku kembali setelah mematikan daku, dan kepada-Nya tempat kembali).” (HR. At Tarmidzi)

Dari Al Barra’ bin Azib ra berkata, "Apabila Rasulullah saw berada pada tempat tidurnya dan akan tidur maka beliau miring ke sebelah kanan, kemudian membaca: "Allahumma aslamtu nafsii ilaika wawajjahtu wajhi ilaika wafawwadhtu amrii ilaika wa alja’tu zhahrii ilaika raghbatan warahbatan ilaika laa malja-a walaa manja-a minka illaa ilaika. Aamantu bikitaabikalladzii anzalta wanabiyyikal ladzii arsalta (Wahai Allah, saya menyerahkan diriku kepada-Mu, menghadapkan mukaku kepada-Mu, menyerahkan semua urusanku kepada-Mu, dan menyandarkan punggungku kepada-Mu dengan penuh harapan dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari siksaan-Mu kecuali hanya kepada-Mu. Saya beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dari nabi yang Engkau utus." (HR. Bukhari)

3. Miring ke sebelah kanan

Hendaknya tidur dalam keadaan sudah berwudhu, sebagaimana hadits Rasulullah Muhammad saw yang artinya: “Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)

Dari al-Barra` bin Azib, Rasulullah Muhammad saw pernah bersabda, "Apabila kamu hendak tidur,maka berwudhulah (dengan sempurna) seperti kamu berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan".

4. Meletakkan tangan di bawah pipi sebelah kanan

“Rasulullah Muhammad saw apabila tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya.” (HR. Abu Dawud no. 5045, At Tirmidzi No. 3395, Ibnu Majah No. 3877 dan Ibnu Hibban No. 2350)

5. Membaca surat surat Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas

Aisyah ra. berkata: “Bila Rasulullah Muhammad saw berbaring di tempat tidurnya, beliau kumpulkan kedua telapak tangannya, lalu meniup keduanya dan dibaca pada keduanya surat Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas. Kemudian disapunya seluruh badan yang dapat disapunya dengan kedua tangannya. Beliau mulai dari kepalanya, mukanya dan bagian depan dari badannya. Beliau lakukan hal ini sebanyak tiga kali.” (HR. At Tarmidzi)

6. Tidurlah di awal malam

“Beliau saw tidur di awal malam dan menghidupkan akhir malam.” (Mutafaq ’Alaih)

“Bahwasanya Rasulullah Muhammad saw membenci tidur malam sebelum (sholat Isya) dan berbincang-bincang (yang tidak bermanfaat) setelahnya.” (Hadist Riwayat Al-Bukhari No. 568 dan Muslim No. 647 (235))

7. Tidak tidur dengan posisi telungkup (tengkurap)

“Sesungguhnya (posisi tidur tengkurap) itu adalah posisi tidur yang dimurkai Allah Azza Wa Jalla.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shohih)

8. Berdoa ketika bangun tidur

Rasulullah Muhammad saw jika mau tidur berdoa, "Bismika Allahumma Amut wa Ahyaa" (Dengan nama-Mu ya Allah aku mati dan hidup) Bila bangun tidur berdoa, "Alhamdulillahillaji ahyana ba’da maa ama tanaa wa ilayhinnusur." (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami mati, dan kepada-Nya kami kembali." (HR. Muslim)

9. Mengusap Bekas tidur

“Maka bangunlah Rasulullah Muhammad saw dari tidurnya kemudian duduk sambil mengusap wajah dengan tangannya.” (HR. Muslim No. 763 (182)

10. Beristinsyaq, beristintsaar dan bersiwak ketika bangun tidur

“Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka beristintsaarlah tiga kali karena sesunggguhnya syaitan bermalam di rongga hidungnya.” (HR. Bukhari No. 3295 dan Muslim No. 238)

Beristinsyaq dan beristintsaar adalah menghirup kemudian mengeluarkan atau menyemburkan kembali air dari hidung.

“Apabila Rasulullah Muhammad saw bangun malam membersihkan mulutnya dengan bersiwak.” (HR. Al Bukhari No. 245 dan Muslim No. 255)


Demikianlah Rasulullah Muhammad saw menunaikan hak-hak tidur yang telah diberikan Allah swt kepadanya. Dan sebagai umat Islam yang beriman kepada Allah swt dan Rasulullah Muhammad saw, maka sudah sepatutnya umat muslim menunaikan nikmat tidur tersebut sebagaimana yang telah dicontohkan dan diajarkan oleh Rasulullah Muhammad saw.

Wallahua’lam
Read more

0 Gaya Hidup Islami Dan Gaya Hidup Jahili

Kamis, 28 April 2011 Label:
Khutbah Jum’at : Gaya Hidup Islami Dan Gaya Hidup Jahili

Masjid Al-Markaz Al-Islamy Jendral Muhammad Yusuf

Gaya hidup pemboros

Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia rahimakumullah
Ada dua hal yang umumnya dicari oleh manusia dalam hidup ini. Yang pertama ialah kebaikan (al-khair), dan yang kedua ialah kebahagiaan (as-sa’adah). Hanya saja masing-masing orang mempunyai pandangan yang berbeda ketika memahami hakikat keduanya. Perbedaan inilah yang mendasari munculnya bermacam ragam gaya hidup manusia.

Dalam pandangan Islam gaya hidup tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu:
1) gaya hidup Islami, dan
2) gaya hidup jahili.

Gaya hidup Islami mempunyai landasan yang mutlak dan kuat, yaitu Tauhid. Inilah gaya hidup orang yang beriman. Adapun gaya hidup jahili, landasannya bersifat relatif dan rapuh, yaitu syirik. Inilah gaya hidup orang kafir.

Setiap Muslim sudah menjadi keharusan baginya untuk memilih gaya hidup Islami dalam menjalani hidup dan kehidupan-nya. Hal ini sejalan dengan firman Allah berikut ini:

قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ - ١۰٨

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108).

Berdasarkan ayat tersebut jelaslah bahwa bergaya hidup Islami hukumnya wajib atas setiap Muslim, dan gaya hidup jahili adalah haram baginya. Hanya saja dalam kenyataan justru membuat kita sangat prihatin dan sangat menyesal, sebab justru gaya hidup jahili (yang diharamkan) itulah yang melingkupi sebagian besar umat Islam. Fenomena ini persis seperti yang pernah disinyalir oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِيْ بِأَخْذِ الْقُرُوْنِ قَبْلَهَا شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ. فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَفَارِسَ وَالرُّوْمِ. فَقَالَ: وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَـئِكَ.

“Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku mengikuti jejak umat beberapa abad sebelumnya, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta”. Ada orang yang bertanya, “Ya Rasulullah, mengikuti orang Persia dan Romawi?” Jawab Beliau, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah Radiyallahu Anhu, shahih).

لَتَتَّبِعَنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوْهُمْ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَلْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى. قَالَ: فَمَنْ.

“Sesungguhnya kamu akan mengikuti jejak orang-orang yang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, bahkan kalau mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kamu mengikuti mereka”. Kami bertanya,”Ya Rasulullah, orang Yahudi dan Nasrani?” Jawab Nabi, “Siapa lagi?” (HR. Al-Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri Radiyallahu Anhu, shahih).

Hadirin jamaah Jum’at rahimakumullah.

Hadits tersebut menggambarkan suatu zaman di mana sebagian besar umat Islam telah kehilangan kepribadian Islamnya karena jiwa mere-ka telah terisi oleh jenis kepribadian yang lain. Mereka kehilangan gaya hidup yang hakiki karena telah mengadopsi gaya hidup jenis lain. Kiranya tak ada kehilangan yang patut ditangisi selain dari kehilangan kepribadian dan gaya hidup Islami. Sebab apalah artinya mengaku sebagai orang Islam kalau gaya hidup tak lagi Islami malah persis seperti orang kafir? Inilah bencana kepribadian yang paling besar.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR. Abu Dawud dan Ahmad, dari Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu, hasan).

Menurut hadits tersebut orang yang gaya hidupnya menyerupai umat yang lain (tasyabbuh) hakikatnya telah menjadi seperti mereka. Lalu dalam hal apakah tasyabbuh itu?

Al-Munawi berkata: “Menyerupai suatu kaum artinya secara lahir berpakaian seperti pakaian mereka, berlaku/ berbuat mengikuti gaya mereka dalam pakaian dan adat istiadat mereka”.

Tentu saja lingkup pembicaraan tentang tasyabbuh itu masih cukup luas, namun dalam kesempatan yang singkat ini, tetap mewajibkan diri kita agar memprihatinkan kondisi umat kita saat ini.

Hadirin jamaah Jum’at rahimakumullah

Satu di antara berbagai bentuk tasyabbuh yang sudah membudaya dan mengakar di masyarakat kita adalah pakaian Muslimah. Mungkin kita boleh bersenang hati bila melihat berbagai mode busana Muslimah telah mulai bersaing dengan mode-mode busana jahiliyah. Hanya saja masih sering kita menjumpai busana Muslimah yang tidak memenuhi standar seperti yang dikehendaki syari’at. Busana-busana itu masih mengadopsi mode ekspose aurat sebagai ciri pakaian jahiliyah. Adapun yang lebih memprihatinkan lagi adalah busana wanita kita pada umumnya, yang mayoritas beragama Islam ini, nyaris tak kita jumpai mode pakaian umum tersebut yang tidak mengekspose aurat. Kalau tidak memper-tontonkan aurat karena terbuka, maka ekspose itu dengan menonjolkan keketatan pakaian. Bahkan malah ada yang lengkap dengan dua bentuk itu; mempertontonkan dan menonjolkan aurat. Belum lagi kejahilan ini secara otomatis dilengkapi dengan tingkah laku yang -kata mereka- selaras dengan mode pakaian itu. Na’udzubillahi min dzalik.

Hadirin, marilah kita takut pada ancaman akhirat dalam masalah ini. Tentu kita tidak ingin ada dari keluarga kita yang disiksa di Neraka. Ingatlah, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا؛ قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَتُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua golongan ahli Neraka yang aku belum melihat mereka (di masaku ini) yaitu suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, mereka memukuli manusia dengan cambuk itu. (Yang kedua ialah) kaum wanita yang berpakaian (tapi kenyataan-nya) telanjang (karena mengekspose aurat), jalannya berlenggak-lenggok (berpenampilan menggoda), kepala mereka seolah-olah punuk unta yang bergoyang. Mereka itu tak akan masuk Surga bahkan tak mendapatkan baunya, padahal baunya Surga itu tercium dari jarak sedemikian jauh”. (HR. Muslim, dari Abu Hurairah z, shahih).

Jika tasyabbuh dari aspek busana wanita saja sudah sangat memporak-porandakan kepribadian umat, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tinggal diam. Sebab di luar sana sudah nyaris seluruh aspek kehidupan umat bertasyabbuh kepada orang-orang kafir yang jelas-jelas bergaya hidup jahili.

Hadirin rahimakumullah

Sebagai penutup khutbah ini saya mengajak kepada kita semua untuk memperhatikan, merenungi dan mentaati sebuah firman Allah yang artinya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ -٦

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim: 6).
Read more

0 Wisuda Santri "Gabungan" 2011

Jumat, 25 Maret 2011 Label:
TPQ Amirul Mukminin dan TPQ Darun Na'im mengadakan Wisuda Santri Gabungan beberapa TPQ. Di antaranya: TPQ Amirul Mukminin, TPQ Darun Na'im, TPQ Imaduddin, dan TPQ Nurul Qur'an. 

Wisuda diadakan di Gedung Lembaga Administrasi Negara (LAN), pada hari Ahad, tanggal 14 Rabi'ul Akhir 1432 H bertepatan 20 Maret 2011. 

Jumlah santri yang diwisuda kali ini ada 85 santri dengan rincian: TPQ Amirul Mukminin: 23 santri, TPQ Darun Na'im: 37 santri, TPQ Imaduddin: 20 santri, dan TPQ Nurul Qur'an: 5 santri. 

Berikut beberapa dokumentasinya: Klik gambar jika ingin memperbesar.
Spanduk Wisuda Santri Gabungan 2011

Abdurrosyid rohimahullah, sebagai master of ceremonial

Para wisudawan

Para wisudawati

Abdurrahim, sebagai qori'

Para wisudawati
Ustadz Arifuddin sebagai ketua panitia

Ustadz Ihsan dari DEPAG sedang membawakan sambutan

Kata Sambutan

Khaerul Akbar sebagai kepala TPQ

Nasyid yang dibawakan oleh grup nasyid dari TPQ Nurul Qur'an
Panitia Wisuda Gabungan 2011
Read more
 
TPQ Amirul Mukminin © 2010 | Designed by Blogger Hacks | Blogger Template by ColorizeTemplates